Sadar dalam pilihan, bukan terpaksa

Gue percaya kalau punya pilihan itu selalu lebih baik daripada ga punya pilihan. Walaupun kadang kalau terlalu banyak pilihan, malah jadi bingung sendiri. Malah terkadang berisiko untuk mengambil pilihan yang merugikan diri sendiri.

Contoh gampangnya tuh, punya sepeda motor. Tapi dengan sadar memilih transportasi umum kalau sedang lowong, santai, dan tidak terburu buru ke tempat tujuan. Kalau memang dirasa butuh cepat, bisa pakai sepeda motor yang siap dikendarai. Berbeda halnya dengan orang yang tidak punya sepeda motor, mau tak mau ya naik transportasi umum. Mau sedang santai atau terburu buru, ya mau tak mau menerima risiko dengan kondisi yang ada.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Contoh lainnya tuh kuliah. Gue percaya kuliah itu bukan satu satunya faktor penting menggapai kesuksesan. Tapi gue percaya kuliah itu membuka lebih banyak kesempatan / jalan / cara menggapai kesuksesan. Katakanlah dengan kuliah, bisa memilih dengan sadar pekerjaan yang mensyaratkan ijazah S-1 atau bahkan tidak membutuhkan ijazah S-1 sama sekali, misalnya entrepreneurship. Tapi bagi yang tidak kuliah, pilihan pekerjaan semakin sempit dan terbatas.

Ngomongin kesuksesan, gue pengeeen banget anak gue punya kuasa untuk memilih jalan kesuksesan dia seperti apa. Dengan cara mencoba banyak hal, mencari tahu apa yang ia suka dan tidak suka, melakukan ekplorasi minat dan bakat, memahami diri sendiri maunya apa. Gue pengeeen banget bisa fasilitasi apapun yang dia mau lakuin.

Entah itu eksplorasi dalam bidang olahraga. Sepak bola, futsal, basket, badminton, voli, gym, atau apapun itu. Kalau gue sih kayaknya yang penting olahraganya bisa dilakuin personal, ga butuh ruang besar, bisa dilakuin tiap hari, ga ribet lah intinya. Kepikiran sih apa pencak silat aja ya? Hahaha kayaknya sesuai kriteria, mayan sehat juga tuh sekalian bisa bela diri. Ciaattt!!!

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Atau eksplorasi instrumen alat musik. Piano, gitar, biola, atau apapun itu. Kayaknya sih starter pack piano deh ya. Ga usah terlalu mahir juga sampe bisa mainin Mozart kek di film film atau konser piano yang hening banget gitu. Yang penting mah, bisa mainin lagu sederhana, bisa baca not balok, atau bisa cover lagu lagu sederhana yang baru dan lagi hits. That’s simply enough.

Atau eksplorasi ragam bahasa. Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Rusia, atau bahasa lainnya. Kayaknya sih Inggris tuh wajib ya, secara gitu. Mandarin comes next as second priority, yang simple dan basic aja, kosakata sehari hari. Baru deh bahasa yang lain, nah kalo bisa mah sekalian ambil sertifikat keahlian. Misalnya Jepang sampe N5, biar kalo misal direkrut perusahaan Jepang, ada buktinya kalo bener bisa bahasa Jepang, kayak native aja gitu.

Atau ekplorasi apa aja gitu, kursus yang dimau. Mau kursus offline atau kursus online. Yang menghasilkan sertifikasi bener nyata dan diakui komunitasnya. Sampe bisa ngukir gelar di nama. Misalnya nih ya kalo di IT, sertifikasi cyber security (CISSP), misalnyaaa.

Photo by Emily Ranquist on Pexels.com

Nah ngomongin semakin banyak eksplorasi, jadinya semakin banyak pilihan yang diketahui anak, apakah ga semakin bingung kayak kalimat di awal post ini? Menurut gue engga. Semakin banyak eksplorasi yang dilakukan, gue percaya anak jadi paham diri sendiri, suka dan tidak sukanya apa.

Nah biasanya sih kebanyakan tuh level kesukaan anak tuh rata aja ke banyak hal. Ya suka suka aja, bukan yang suka banget atau ngga suka banget. Jadinya bingung kalau disuruh milih, mau nerusin spesialisasi yang mana. Tips dari gue, mulai dari apa yang tidak disukai, baru deh mengerucut ke apa yang tersisa.

Post ini bukan berarti gue menggantungkan harapan yang tinggi kepada anak. Tapi ini keinginan gue, yang pengen fasilitasin anak eksplorasi banyak hal tanpa terbentur biaya. Agar nanti anak bisa punya lebih banyak pilihan dan tidak bilang “Seandainya waktu itu belajar/nyobain …”. Semoga saja nanti rejekinya cukup ya buat anak. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.