Commuter Line

Post ini sebenarnya hendak dibuat untuk membahas seluruh transportasi publik di Jabodetabek pada tahun 2020. Tapi nampaknya bahasan Commuter Line sendiri sudah mencukupi 500 kata. Jadi post KRL berhak untuk dibahas eksklusif dalam 1 post tersendiri. Jujur, moda transportasi ini termasuk yang terfavorit dibanding moda lainnya.

Dalam post series transportasi publik ini, gue cuma akan bahas transportasi publik yang pernah gue pake di area Jabodetabek. Tujuan tulisan ini cuma mau apresiasi apa yang sudah baik dan kritik apa yang sekiranya masih belum baik. Gue pro transportasi publik tapi gue bukan pemuja yang mengagungkan sarana itu tanpa cela. Jadi pada beberapa kondisi ya gue lebih rekomendasi alternatif lainnya ketimbang transportasi publik.

Gue pernah tulis apa yang gue keselin dan gemesin tentang transportasi publik. Semoga post ini bisa jadi sebuah refreshment dan bahasanya lebih kalem ya. Hahaha.

Wow!

Gue akan mulai dengan alternatif moda transportasi yang benar benar menghubungkan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi.

Dengan tarif yang gue bilang sangat sangat murah, Commuter Line bisa mengantarkan kita ke ujung utara di Ancol/Tanjung Priuk hingga ujung Selatan di Bogor kota/Nambo. Dari ujung barat di Rangkasbitung hingga ujung timur di Cikarang. Harga tiket bisa menjadi sangat murah karena adanya subsidi PSO (Public Service Obligation) dari pemerintah. Tarifnya saat ini 3000 rupiah untuk 25 km pertama kemudian baru bertambah 1000 rupiah setiap 10 km selanjutnya.

Selain harga tiket yang sangat murah, Commuter Line memiliki aplikasi ponsel yang sangat bermanfaat untuk penggunanya (Android Playstore | Apple Appstore). Aplikasi tersebut sangat membantu pengguna untuk mengetahui jadwal KRL dan posisi KRL secara real time. Waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan juga tergolong cepat karena notabene memiliki jalur eksklusif dan tidak terkena macet jalanan.

Tiket ini juga ramah turis atau pengguna yang cuma sekali sekali pakai. Mereka tidak perlu berlangganan Kartu Multi Trip atau memiliki uang elektronik untuk membayar tiket masuk. Cukup membeli Tiket Harian Berjaminan (THB) di loket yang akan dilayani petugas atau kios loket mandiri (self service kiosk). Cuman ya gitu, kekurangannya sering mengantri.

Cuman ya menurut gue masih mending banget, ketimbang moda transportasi lainnya. Misalnya saja TransJakarta yang hanya bisa diakses dengan uang elektronik. Bahkan MRT yang termasuk moda transportasi baru saja tidak mendukung single trip atau ramah turis. Hahaha.

Proses pengembalian barang di Lost and Found juga terbilang mudah dan sangat membantu. Gue pernah ketinggalan sebuah plastik kresek berisi edamame dan zipper bag di rak bagian atas. Kalau dibaca baca dari tweet yang disampaikan ke Commuter Line, hal tersebut merupakan hal yang biasa. Nampaknya setiap KRL sudah tiba hingga stasiun ujung, ada petugas yang akan melakukan sapu bersih kereta. Jika ada barang yang tertinggal, akan disimpan di pos Lost and Found stasiun terkait.

Proses klaimnya cukup mudah, saat menyadari ada barang yang tertinggal, lapor ke Passenger Service untuk dibuatkan laporan. Jika memang barang tersebut sudah diamankan oleh petugas maka ketika barang tersebut sudah diterima kembali oleh pemiliknya, akan dibuatkan tanda serah terima dan foto sebagai bukti. Good job Commuter Line! 👏

Eww!

Tidak disangkal bahwa moda transportasi ini memiliki beberapa kekurangan seperti pengguna yang berjubel dan lama perjalanan yang memakan waktu lebih lama apabila ada lintas rute. Misalnya rute dari Serpong ke Bogor yang harus melalui Tanah Abang terlebih dahulu. Apabila Serpong ke Bogor dilalui dengan KRL akan memakan waktu 2 jam 10 menit, sedang transportasi pribadi membutuhkan waktu 1 jam 31 menit.

Transportasi ini juga tak lepas dari gangguan sarana prasarana yang mengakibatkan terlambatnya KRL dari jadwal seharusnya. Rusaknya lift atau eskalator sehingga tidak ramah untuk lansia dan ibu hamil. Bahkan ada beberapa stasiun yang tidak ada eskalator atau lift. Contoh saja stasiun Palmerah, yang sudah terintegrasi dengan Transjakarta (misalnya 1B atau 1F), dari halte bus menuju gate masuk stasiun hanya memiliki tangga. Sungguh bukan fasilitas yang ramah ibu hamil dan lansia.

Komplain lainnya bisa dibaca baca di twitter @AnkerTwiter. Sejauh ini jalur yang paling bisa diandalkan ya jalur hijau (Rangkasbitung / Maja / Parungpanjang / Serpong – Tanah Abang). Jalur yang paling sedikit ada gangguan dibanding jalur lainnya. Jalur lainnya tuh adaaa aja gangguan. Jadi kalau misalnya keseharian kamu ada di jalur itu ya bersabar saja.


Kamu ada cerita pengalaman saat naik KRL Commuter Line? Yuk sharing di kolom komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.