Kategori
Review

The Montessori Toddler (Simone Davies)

Awalnya gue pikir Montessori itu cuma sekadar metode permainan. Setelah baca buku ini gue tau gue salah besar.

Judul lengkapnya The Montessori Toddler: A Parent’s Guide to Raising a Curious and Responsible Human Being. Awalnya dibuat dengan metode self publishing book di Kickstarter. Gue juga baru tahu pas baca bagian akhir buku. Semua gambar di bawah ini diambil dari halaman kickstarter tersebut ya.

Sambil menyelesaikan buku ini, gue mencatat beberapa hal yang berkali-kali ditekankan oleh Simone dalam buku tersebut. Gue ngerasa beberapa hal tersebut merupakan prinsip Montessori. Melalui bukunya, ia menjabarkan penerapannya dalam berbagai aspek kehidupan di buku.

Oleh karena itu, membaca post ini bukan berarti sudah cukup tidak perlu membaca buku tersebut. Karena post ini hanya ringkasan prinsip, sedang informasi penerapan dan detilnya ada di buku.


Sebelum baca buku ini, gue sering denger istilah ini dari obrolan dengan teman. Dia sering nyebut istilah Montessori, cuman gue ga pernah ngeh itu apa. Jujur aja gue waktu itu mikir Montessori itu cuma sekadar games. Ternyata gue bener-bener salah.

Montessori itu bukan sekadar games. Montessori itu cara gimana kita memperlakukan anak, yang terkadang kita memperlakukan mereka layaknya orang dewasa. Montessori itu melatih anak menjadi mandiri, ga nempel mulu sama orang tua.

Dalam buku tersebut, anak sebaiknya diberikan peran dalam tugas keseharian dan mandiri dalam melakukan tugas tersebut, layaknya orang dewasa tapi disesuaikan dengan kemampuannya. Semakin lama, kompleksitas tugasnya pun bertambah. Dengan begitu, anak bisa lebih percaya diri dan bersemangat dalam ikut serta dalam sebuah aktivitas keseharian bersama keluarga. Misalnya menyiapkan makan malam, membersihkan rumah, dst. Hal ini akan berdampak pada hubungan sosialnya yang semakin baik di dalam lingkungan keluarga.

Termasuk saat terjadi sebuah masalah, anak diajak untuk mencari solusi tanpa orang tua harus mendikte bagaimana. “Oke, mainan cuma ada 1 tapi ada 2 yang mau main, enaknya gimana ya?”. Campur tangan orang tua sangat minimal dalam hal ini. Jika anak merasa bingung apa yang harus dilakukan, orang tua bisa memberikan sedikit petunjuk dan membiarkan anak yang memutuskan. “Mau gantian main trus yang satu nunggu atau salah satu main yang lain dulu”. Kadang solusi mereka lebih cemerlang bahkan di luar yang kita telah pikirkan.

Pada dasarnya hubungan orang tua dan anak lebih sebagai pemandu anak bagaimana sebaiknya berperilaku dalam kehidupan, bukan sebagai bos. Orang tua menunjukkan cara bagaimana mengekspresikan emosi dengan baik, menghormati orang lain saat ia sedang berbicara, menghormati anak lain dan menunggu giliran bermain, mengerti bahwa temannya mungkin tidak suka dipeluk atau diajak bermain bersama.

Salah satu cara mengajarkan anak dalam hal menghormati antara lain ketika ia asyik melakukan sebuah aktivitas, kita tunggu ia selesai tanpa kita interupsi. Kita membiarkannya berkonsentrasi penuh hingga ia selesai. Biarkan dia melatih dirinya menjadi ahli dalam aktivitas tersebut. Jika kita harus mangganggunya, mungkin kita perlu menyentuh bahu atau lengannya dan mengisyaratkan jika ada perlu. Jika ia tidak mengalihkan perhatian, maka jangan diganggu. Begitu dia mengalihkan perhatian, baru utarakan maksudmu.

Simone sering menganjurkan untuk membahasakan apa yang anak hendak sampaikan dengan perbuatannya. Tujuannya agar anak lebih mengenal dirinya dan lebih ekspresif dalam menyatakan emosinya, alias melatih kecerdasan emosi. Hal tersebut membantu kita memahami apa yang sebenarnya anak sedang rasakan atau alami. Bukan malah menghakimi atas perbuatan mereka. Misalnya saat anak melempar makanan saat makan, kita bisa bilang, “Lho kok dilempar? Udah kenyang ya? Yaudah kalo kenyang. Berarti makannya udah selesei ya.” Kalimat tersebut kita sampaikan dengan nada yang tenang dan lemah lembut, bukan penuh amarah.

Dalam bukunya, ia sering mengajak kita untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang anak. Hal tersebut membantu kita untuk mengatur bagaimana sebaiknya tata letak ruangan. Mainan atau barang yang bisa digunakan oleh anak bisa diletakkan di tempat setinggi pandangan mereka. Jika tidak bisa diraih dengan mudah misalnya wastafel, maka ada bangku atau tangga yang membantu mereka.

Kadang anak mau mengikat sepatu sendiri, kadang tidak. Hal tersebut seharusnya lumrah. Seperti halnya kita sendiri, orang dewasa, kadang kita memasak sendiri makan siang, kadang tidak karena rasa malas. Basically they do the same thing. Kalau kita menyadari hal tersebut, rasa-rasanya emosi kita tidak akan setinggi itu, karena kita sendiri akan merasa maklum.

Hal lainnya, lebih baik kita tidak membanding-bandingkan anak dengan anak lain atau saudaranya sendiri. Bahkan sekadar bilang, “Tuh liat kakak/temen kamu makannya banyak, kok kamu makannya cuma sedikit.” Karena kita sendiri tidak suka dibanding-bandingkan, bukan?

Montessori bukan berarti membolehkan segala aktivitas dan sikap untuk dilakukan oleh seorang anak. Karena Montessori juga memiliki batasan yang perlu diterapkan kepada anak. Batasan ini bisa bervariasi setiap keluarga dan tergantung bagaimana prinsip dalam keluarga tersebut.

Pada dasarnya batasan/peraturan tersebut harus dijalankan secara konsisten. Orang tua tidak diperbolehkan bilang “tidak” pada suatu waktu kemudian “ya” pada waktu lainnya. Jika orang tua tidak konsisten dalam menjalankan aturan, hal tersebut akan menyulitkan orang tua sendiri. Anak akan mengetes inkonsistensi tersebut dengan merengek (tantrum), baik di dalam maupun di luar rumah.


Simone sering menyebutkan referensi buku lain di sela tulisannya sebagai pendukung materi. Hal itu menunjukkan bahwa tulisan di buku itu bukan hanya pemikirannya semata. Tapi juga berdasarkan wawasan saat membaca buku atau literatur lainnya. Hal tersebut juga membantu pembaca untuk mencari buku yang terkait jika tertarik dengan topik tersebut.

Review

⭐⭐⭐⭐⭐

Buku ini sangat mudah dipahami dan praktikal. I strongly recommend to read this book as soon as possible for everyone. Iya, target buku ini ga cuma untuk orang tua saja tapi untuk semua orang. Karena prinsip Montessori ini juga bisa diterapkan oleh orang dewasa kepada anak kecil lainnya, misal keponakan atau anak tetangga.

Dalam bukunya, Simone seringkali mendorong kita untuk mencari materi lain terkait Montessori, baik berupa buku lain, podcast, blogpost, artikel, dst. Seringkali dia menyertakan buku lain atau sumber bacaan lain yang membantu kita untuk mendalami topik spesifik. Bahkan di bagian akhir buku, dia membuat daftar lengkap buku yang sudah pernah disebutkan di bab sebelumnya.

Buku fisik bisa dibeli online di BookDepository (bahasa Inggris) dan Mizanstore (bahasa Indonesia). Gue sendiri beli di Google Playbook dengan versi ebook. Versi ebook juga bisa dibeli di Kindle. Review lainnya bisa dibaca di Goodreads.

1 reply on “The Montessori Toddler (Simone Davies)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.