Perihal Peran Orang Tua

Saya belum memiliki seorang anak, baik anak kandung pun anak asuh. Bukan, ini hanya hal sekelebat saja yang sering mengganggu pikiran saya sewaktu-waktu. Daripada hanya menjadi hantu dalam benak, ada baiknya saya bagi kepada para pembaca, pun bisa bertukar pikiran lewat kolom komentar.

Dimulai dari kasus seorang teman yang merasa terusik terhadap diskusi bersama orang tuanya. Kedua pihak mempunyai kehendak yang berseberangan. Sang orang tua merasa ingin yang terbaik untuk anaknya. Sedang sang anak merasa berhak untuk mengambil keputusan dalam hidupnya tanpa campur tangan orang tuanya. Saya jadi bertanya kepada diri saya sendiri, jika nanti saya punya anak, sejauh apa intervensi yang saya lakukan terhadap keputusan anak saya.

Peran Pokok Orang Tua

Dari pertanyaan tersebut, saya mulai dari pertanyaan paling mendasar, sebenarnya apakah peran pokok yang dimiliki orang tua terhadap sang anak? Menurut saya orang tua perlu memenuhi kebutuhan materi pokok secukupnya, meliputi sandang, pangan, dan papan yang layak. Tak hanya itu, orang tua perlu memenuhi kebutuhan  anak untuk mengenyam pendidikan dan segala fasilitas yang mendukung kelancaran kegiatan tersebut. Tak lupa juga  kebutuhan sang anak dari orang tua berupa perhatian dan kasih sayang yang tiada terbatas.

Hal menjadi lebih kompleks pada keterlibatan orang tua dalam keputusan yang dibuat sang anak. Menurut saya, sang orang tua tentu tetap perlu memberikan arahan terhadap anak apa yang harus dimiliki dan harus dilakukan. Selebihnya tentu sebaiknya anak yang memutuskan untuk mengikuti apa kata orang tuanya atau ia memilih jalannya sendiri.

Ada yang bilang, semakin banyak yang diketahui, semakin kecil kemungkinan untuk melakukan eksplorasi hal baru, alias memilih jalan aman yang selama ini sudah dilalui. Para orang tua pun cenderung demikian namun zaman yang dinamis membuat wawasan orang tua tidak bisa serta merta menjadi patokan saklek. Oleh karena itu, dibutuhkan diskusi antara orang tua dan anak sehingga terjadi komunikasi dua arah antara keduanya.

Perihal umur yang tepat sang anak dianggap wajar mengambil keputusan, menurut saya sekitar umur 20an. Tapi tidak menutup kemungkinan pada umur belasan tahun, sang anak dapat dianggap mampu dan dipercaya untuk mengambil keputusan, karena wawasan yang dimiliki oleh sang anak. Jangan salah, ada beberapa anak yang memiliki wawasan dan pola pikir yang lebih dewasa dari umurnya.

Tekanan Standar Sosial

Menurut saya itu hal yang tidak terhindarkan yakni diskusi antar orang tua. Topik apalagi yang asyik paling gampang dibicarakan antar orang tua kalau bukan tentang sepak terjang sang anak. Seringkali sang orang tua akan mendapatkan komentar dari para tetangga. Ya anaknya sukses lah, biasa saja, atau malah dianggap “gagal” mendidik anak.

Gagal dalam konteks tersebut sangat terkait dengan standar status sosial seseorang di masyarakat. Ada masyarakat yang punya standar karir dokter dan pekerja kantoran itu sukses, bergengsi, dan mapan. Dibandingkan dengan pekerja seni yang memiliki stereotype jarang mandi, hidup berantakan, serta penghasilan yang tak menentu.

Jika demikian, sebenarnya itu kembali pada keputusan sang orang tua, mau menanggapi komentar tetangga atau tidak. Toh itu hidup sang anak, bukan hidup tetangganya. Tidak ada urusan atau perlu adanya campur tangan dengan kehidupan sang anak.

Pribadi Bertanggung Jawab

Peran penting orang tua selanjutnya menurut saya yakni membentuk kepribadian sang anak, terutama saat mengambil keputusan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sang anak agar ia berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab penuh atas keputusannya. Bukan malah menyesali keputusan secara berlarut-larut jika hasil keputusan tidak sesuai dengan ekspektasi di awal.

Komunikasi Efektif Solusi Konflik

Teori tidak segampang praktik, pada kenyataannya ada banyak sekali orang tua di luar sana mengambil jalan aman, menuntut anak sesuai berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Sang orang tua tidak sepenuhnya salah karena fitrahnya untuk memberikan yang terbaik sesuai versinya kepada sang anak. Nah konflik ini yang biasanya terjadi antara orang tua dan sang anak. Ada dua kemungkinan, antara anak menurut saja atau anak memberontak.

Agar tidak terjadi hal buruk akibat konflik, perlu diatur efektivitas komunikasi antara sang anak dan orang tua. Sebenarnya parameter ini (efektivitas komunikasi) merupakan salah satu faktor bagi dunia parenting menjadi dinamis dan menarik. Nggak gitu-gitu aja. Kan setiap orang pasti memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif.

Kesimpulan

Peran orang tua terhadap anak yakni membentuk kepribadian sang anak melalui segala hal yang diberikan, mulai dari materi (sandang, pangan, papan, biaya pendidikan, dsb.) hingga non-materi (kasih sayang, perhatian, bimbingan, panduan, dsb.). Orang tua seharusnya lebih berperan sebagai pemberi saran, bukan memaksakan kehendak kepada sang anak.

Pembaca, tulisan di atas bisa jadi benar atau banyak salahnya, mind to share thoughts here?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s