Kategori
Personal

Year in Review : 2019

Kilas balik 2019 ini mungkin tidak begitu banyak. Tapi ada beberapa hal yang ingin gue share ke kalian terkait perjalanan gue di tahun 2019 ini. Semoga saja berguna dan bermanfaat untuk kalian ya.

Gue juga pernah nulis hal serupa untuk tahun 2014, 2015, 2016, 2018.

What to remember?

RELATIONSHIP – Di tahun ini gue ketemu calon istri secara “tidak sengaja” kemudian berlanjut saling kirim pesan, ketemuan lagi, lamaran, dan menikah. It took 3 months to prepare. Kalau tertarik cerita prosesnya di postingan Kapan Nikah – Part 1 dan Part 2. Bulan madu diputuskan ke Bali karena menimbang istri belum pernah ke Bali dan gue juga mau nyicip Nusa Penida.

Selang beberapa bulan setelah pernikahan, istri cek test pack dan hasilnya positif. Akhirnya kita coba memastikan itu ke dokter dan setelah dicek, hasilnya benar sedang hamil. Yep, langsung kepikiran uang lahiran, biaya sekolah, dst. Haha. Bismillah, semoga kehamilan dan persalinan berjalan dengan lancar, ibu dan bayi sehat normal. Yang jelas, gue bersyukur sudah diberikan amanah berupa keturunan dan gue pengen menjaga dan merawat amanah tersebut dengan baik.

CAREER – Akhirnya setelah 6 tahun, gue pindah karir yang awalnya project manager menjadi product owner di perusahaan berbeda. Buat gue, 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk berkutat di project IT. Cukup lah ya punya karir di perusahaan lama dan waktunya menggapai pengalaman dari perusahaan baru. Perusahaan yang baru masih di industri perbankan, tapi posisinya sebagai vendor.

Bulan Mei 2019 lalu, gue ditugaskan ke Bangkok selama sebulan. Ya hitung-hitung bulan madu kedua karena istri juga ikut ke Bangkok. Haha. Sayangnya memang pas bulan puasa. Jadi kuliner dan wisatanya kurang maksimal. Ups.

TRAVEL – Jalan-jalan setelah pernikahan, tidak jauh jauh dari Bogor dan Bandung. Paling jauh juga ke Surabaya saat mudik lebaran Idul Fitri. Semoga saja nanti diberikan rezeki berupa uang dan kesempatan untuk jalan-jalan lagi. Misalnya ke Derawan, Raja Ampat, atau Labuan Bajo. Aminin aja dulu.

Key Takeaways

Beberapa poin di bawah ini gue hanya bermaksud untuk mengeluarkan uneg-uneg saja, bukan nasihat atau bahkan menggurui. Karena kalau disebut sebagai nasihat, apalah gue, apalagi menggurui. Mungkin ada yang sependapat, mungkin ada yang menolak. Boleh lho kalau mau share di kolom komentar terkait uneg-uneg serupa.


Pernikahan dan kehamilan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Alhamdulillah kami diberikan kecukupan rezeki untuk kebutuhan yang selama ini muncul. Kalau gue udah survei ala ala lewat instagram story nih (yang mana ga mungkin bisa dibilang valid atau dijadikan acuan), sebagian besar bilang bahwa biaya pernikahan itu tidak lebih dari 2 tahun gaji. Nah mungkin bagi yang belum menikah, bisa mengira-ngira berapa biaya yang mesti ditabung.

Biaya kehamilan pun cukup besar. Mulai dari biaya check up per bulan, melahirkan, perlengkapan bayi, imunisasi, dan kebutuhan harian si bayi. Eh selain itu, jangan lupa kebutuhan si ibu ya, mulai dari pakaian, pembalut nifas, vitamin, dst.


Pernikahan itu bukan sebuah titik akhir dari sebuah hubungan. Jalan kehidupan setelah pernikahan itu masih panjang, apalagi setelah memiliki anak. Mulai dari biaya, emosi, kesabaran, dan komitmen. Semua itu akan terkuras dan teruji selama pernikahan.

Pernikahan itu bukan hanya menyatukan 2 manusia. Akan tetapi juga menyatukan 2 keluarga. Pernikahan itu bukan hanya dengan orangnya saja tapi dengan segala sifatnya, kebiasaannya, gaya hidupnya. Pernikahan itu bukan untuk dirimu. Pernikahan itu bukan untuk membuat dirimu bahagia tapi untuk membuat pasanganmu bahagia.


Always being scrutiny to your finance and save a lot, like A LOT.

Kenali bagaimana pemasukanmu dan pengeluaranmu. Satu-satunya cara untuk mengenali kedua hal tersebut ya mencatatnya dalam sebuah buku atau aplikasi. Evaluasi pengeluaranmu setiap periode dan buatlah ringkasan untuk masing-masing kategori pengeluaran. Dengan demikian, tidak ada lagi kalimat, “Gue juga ga ngerti duit gue ilang kemana!”. You know your income, you know your expense.

Save ini bukan hanya berarti menabung tapi pada intinya pengeluaran harus selalu lebih kecil daripada pemasukan. Bahasa kerennya ya, always live below your means. Harus ada uang tersisa setelah semua pengeluaran atau kebutuhan tercukupi. Karena kebutuhan di masa depan sangat besar. Kecukupan uang untuk menikah, kehamilan, melahirkan, proses tumbuh kembang anak, sekolah, rumah, kendaraan, haji, umrah, dst.

Terutama saat masih berstatus lajang (belum menikah), menentukan prioritas pengeluaran itu jauh lebih mudah daripada saat sudah berstatus menikah. Prioritas pengeluaran lebih difokuskan pada kebutuhan keluarga. Terlebih kalau sudah hamil dan punya anak, rasa-rasanya kebutuhan anak harus terpenuhi dulu ketimbang kebutuhan kedua orang tuanya. Jadi manfaatkan kebebasan menentukan prioritas pengeluaran itu selagi masih sempat.

Terlepas bagaimana caranya untuk menyimpan sisa uang tersebut karena tergantung profil risiko masing-masing. Baik dalam bentuk tabungan biasa, tabungan berjangka (deposito), emas, reksadana, surat hutang (SBN, sukuk), ataupun saham. Gue pernah bahas beberapa instrumen investasi tersebut sih cuman memang secara garis besar aja, ga terlalu detail.


Kalau kalau nih post ini dibaca sama anak gue nanti pas udah gede, mending prioritasin skill lo untuk cari duit, ketimbang cinta cintaan. Eventually you will meet your significant one. Pacaran itu ngabisin duit. Iya kalo lanjut terus, kalau putus? Oke deh kalau misalnya lanjut terus, pengeluaran yang udah lo abisin tuh mending disimpen buat kebutuhan lo di masa depan, biaya nikah, kehamilan, melahirkan, biaya kesehatan anak, biaya sekolah anak, beli rumah, beli kendaraan, dst. Gue paham kok pacaran itu fungsinya biar lo berdua makin saling kenal satu sama lain. Tapi kalo pacaran ga ada juntrung kejelasan, it waste your time, energy, emotion, and also money. Trust me.

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do

Mark Twain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.