COVID-19

Sejak diumumkan pertama kali di bulan Maret 2020, penerapan jaga jarak (social distancing yang kemudian diubah menjadi physical distancing) resmi digaungkan oleh pemerintah. Jaga jarak ini penting dilakukan untuk menekan jumlah korban virus COVID-19. Sebab penularan virus ini dapat berlangsung dengan sangat amat mudah dan cepat.

Let’s Flattening The Curve

Jargon yang mendunia untuk mengatasi kasus COVID-19 ini. Yang dimaksud dengan flattening the curve adalah sebuah aksi bersama yang dilakukan dalam rangka menekan penyebaran virus COVID-19 yang kemudian bisa menimbulkan korban secara massal dalam rentang waktu yang dekat. Dengan begitu, sumber daya rumah sakit dan tenaga kesehatan yang tersedia dapat menjalankan tugas perawatan dengan baik terhadap setiap pasien. Sebaliknya, jika jumlah pasien membludak, rumah sakit dan tenaga kesehatan akan kuwalahan.

Sebuah kejadian nyata di Itali saat korban COVID-19 tidak terkendali, dokter HARUS memilih mana pasien yang masih dapat diselamatkan dan mana yang tidak. Karena alat kesehatan yang terbatas, seperti ventilator yang terbilang mahal harganya, sekitar 800 juta rupiah. Aksi flattening the curve membantu rumah sakit dan tenaga kesehatan untuk menangani semua pasien dengan baik dan optimal.

Apa itu COVID-19 dan cara penularan

Virus ini menyerang organ pernapasan dan menular lewat droplet saat pembawa virus batuk/bersin. Korban tidak hanya merasakan sakit akibat infeksi virus tapi juga bisa meninggal. Ya, virus ini mematikan. Bahkan kalaupun pasien dinyatakan sembuh, ada beberapa temuan ternyata beberapa bagian paru-parunya rusak permanen akibat COVID-19 ini.

Penularan virus ini mirip dengan flu, misalnya orang lain bisa tertular saat pembawa virus batuk atau bersin di depannya. Bisa jadi juga orang lain tertular secara tidak langsung. Misalnya pembawa virus menutup mulut saat batuk/bersin dengan telapak tangan yang kemudian menyentuh sebuah barang. Virus hinggap di barang tersebut dalam kurun waktu tertentu. Jika barang tersebut disentuh oleh orang lain, maka virus itu hinggap ke orang tersebut.

Saking mudahnya virus itu menular, pasien tidak boleh dijenguk. Tenaga kesehatan juga harus memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap dengan segala keterbatasan yang ada. Saat pasien meninggal pun, penanganan jenazah tidak boleh sembarangan. Jenazah harus dibungkus dalam sebuah plastik (bukan kafan), tidak dimandikan, layaknya jenazah biasa dimakamkan.

Cuci tangan dan pakai masker

Sebenarnya asal droplet tersebut segera dibersihkan dan/atau tangan segera dibersihkan sebelum menyentuh muka, mungkin virus tidak akan menular ke orang tersebut. Oleh karena itu, saat itu diserukan untuk memakai masker bagi yang sakit dan sering mencuci tangan agar menghilangkan virus mematikan ini. Jika cuci tangan tidak memungkinan, bisa juga memakai hand sanitizer.

Foto : FK UGM

Tak heran, selama pandemik covid-19 ini, ketersediaan masker dan hand sanitizer sangat amat langka. Tak sedikit orang yang menimbun kemudian menjual kembali dengan harga melangit. Biasanya dijual lewat e-commerce tapi nampaknya penyedia layanan e-commerce kurang tegas dengan melarang / ban semua seller yang menjual masker atau hand sanitizer, layaknya Amazon.

Ternyata masker tidak hanya dibutuhkan oleh yang sakit. Ternyata pembawa virus bisa saja tidak merasakan sakit / mengalami gejala terkena penyakit covid-19. Selanjutnya disebut sebagai asimptotik. Nah mungkin ada baiknya juga masker yang digunakan itu masker non medis. Karena masker medis harusnya lebih penting digunakan oleh tenaga kesehatan yang berjuang di garda depan, merawat korban COVID-19 ini.

Tidak hanya masker, APD lainnya juga langka, hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat melayangkan surat terbuka kepada pemerintah untuk menjamin ketersediaan APD sehingga meminimalisir penularan virus dari pasien ke tenaga kesehatan.

Dampak COVID-19 : Work from home dan school from home

Akibat dari pandemik ini, pemerintah mendorong perusahaan untuk menerapkan metode kerja dari rumah (work from home). Memang ada beberapa unit yang tidak bisa melakukan pekerjaan dari rumah (unit yang bekerja di lapangan). Ada juga beberapa perusahaan yang masih mengharuskan karyawan masuk kantor karena bosnya percaya bahwa COVID-19 ini sebuah konspirasi pemerintah (?).

Jika ada perusahaan yang sebenarnya bisa menjalankan aktivitas kerja dari rumah namun tidak mengindahkan himbauan pemerintah, artinya perusahaan tersebut tidak mementingkan keselamatan dan kesehatan pegawainya. They prioritize performance over people. Menurut gue pribadi, tandain aja perusahaan-perusahaan kayak gitu. Jangan pernah sesekali apply kecuali budaya mereka sudah berubah dengan mengutamakan nilai kemanusiaan.

Tidak cuma work from home, pemerintah bersikap tegas untuk meliburkan sekolah agar meminimalisir COVID-19 menimpa/menular lewat tenaga pengajar dan anak-anak kecil. Ada beberapa sekolah yang menerapkan school from home, menggunakan fasilitas internet untuk belajar dan bertemu teman temannya secara online. Baik tes online ataupun video call beramai ramai menggunakan aplikasi Zoom.

Aplikasi Zoom untuk video call

Dampak COVID-19 : Ekonomi melambat di pusat kota

Banyak mall yang tutup atau sekadar membatasi jam operasional menjadi lebih singkat. Tak hanya mall, banyak restoran yang tutup untuk mendukung program physical distancing dari pemerintah. Selain itu, tempat rekreasi, hiburan, dan seterusnya juga mulai dibatasi atau dihentikan sama sekali kegiatan operasionalnya untuk menekan penyebaran virus COVID-19 ini.

Artinya, aktivitas dan keramaian di pusat kota melambat, begitu pula ekonominya.

Pekerja harian semakin susah mendapatkan pemasukan. Pekerja harian ini semacam pedagang asongan, pedagang kaki lima pinggir jalan/trotoar, penjual makan siang di kantin karyawan, bahkan mitra ojek online. Tak hanya itu, restoran yang biasanya ramai saat jam makan siang, pun pemasukannya pasti berkurang karena sepinya pengunjung.

Akhirnya para pekerja harian ini mudik, walaupun sebenarnya berisiko menyebarkan virus ke kampung halaman. Mungkin mereka mudik karena mereka tak ada pekerjaan di pusat kota, mending pulang saja. Mungkin begitu kata mereka yang punya pilihan untuk pulang ke kampung halaman.

Restoran pun merasakan dampaknya, pemasukan berkurang, berpotensi pada karyawan untuk dirumahkan, meringankan beban perusahaan. Tak hanya merumahkan karyawan, pemilik usaha bisa saja pivot atau beralih bidang usaha atau malah menutup usahanya. Ya karena bangkrut tak ada pemasukan.

Memang agak dilema ya, kalau karyawan masih masuk, khawatir mereka tertular virus atau jadi media pertukaran virus. Tapi kalau karyawan tidak masuk, artinya tidak ada pemasukan dan beban perusahaan masih ada. Pilihannya ya rumahkan karyawan atau sekalian tutup usaha. Tapi ada restoran yang pivot dengan menyediakan layanan delivery, misalnya Holycow.

Tak hanya restoran, bisnis yang lain juga terkena dampaknya, misalnya biro wisata (travel agent) dan perhotelan. Karena physical distancing ini menghimbau masyarakat untuk tidak malah jalan-jalan, demi menghindari penularan virus di tempat wisata ataupun tidak tertular virus dari tempat wisata. Jadwal perjalanan pesawat dan kereta saja terkena pembatalan akibat virus ini. Wisatawan berkurang, tak ada yang menginap di hotel, tak ada yang masuk tempat wisata.

Kira-kira bidang apalagi ya yang terkena dampak selain F&B, Transportasi, Akomodasi, dan Rekreasi? This reminds me to video made by Ray Dalio about how economic machine works.

The New Normal

Dampak COVID-19 ini sangat besar dan nampak dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat jadi sadar diri untuk cuci tangan sesering mungkin. Pimpinan perusahaan aware bahwa pekerjaan bisa dilakukan di rumah tanpa mengorbankan kualitas pekerjaan, karyawan tidak harus hadir di kantor. Tenaga pengajar dan murid/mahasiswa belajar untuk melakukan kegiatan belajar mengajar melalui internet (daring). Masyarakat jadi lebih aware dengan canggihnya teknologi dan internet.

Photo by Timur Kozmenko on Pexels.com

Ya, COVID-19 ini memberikan standar normal yang baru dalam menjaga kesehatan, bekerja, belajar mengajar.

Tak hanya itu, aktivitas kumpul-kumpul atau reuni atau sekadar ngobrol ngobrol yang biasanya dilakukan di kafe, ternyata bisa dilakukan lewat video call. Selain itu, ada kursus online, yoga online, fitness online, dan lain lain dan lain lain.


Disclaimer : Tulisan ini ditulis di bulan April 2020. Tapi karena gue ga pengen nambah intensitas berita COVID-19 yang berseliweran di timeline. Akhirnya gue jadwalin publish di bulan September aja, 6 bulan setelah kasus COVID-19 pertama kali menelan korban di Indonesia. Gue juga bukan ahli, hanya seorang awam yang melihat dampak pandemik ini di Jakarta.

Satu respons untuk “COVID-19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.