Kapan Nikah? — Part 2

Sepertinya gue perlu jelasin pengalaman pribadi gue terkait persiapan nikah kemarin. Lanjutan postingan Kapan Nikah sebelumnya.

Drama Tanggal Pernikahan

Awalnya ditetapkan tanggal 27 April 2019 namun karena ada keluarga gue yang berhalangan, akhirnya dimajukan saja jadi 20 April 2019. Yang juga ternyata ada libur sehari pada tanggal 19 April 2019. Yup, long weekend. Di satu sisi, menguntungkan keluarga gue yang berangkat dari Surabaya dengan bus. Jadi mereka tidak terburu-buru dan capek sehabis perjalanan jauh. Namun bagi para tamu, long weekend biasanya sudah punya agenda jalan-jalan atau quality time bersama keluarga masing-masing. Kami berdua tidak keberatan, asal keluarga kami bisa hadir dalam acara perayaan. Family is top priority.

Nah untungnya opsi mundur seminggu ke awal Mei ditiadakan dengan pertimbangan terlalu dekat dengan awal puasa.

Setelah mantap 20 April 2019, kami pun langsung melengkapi berkas pernikahan ke KUA dan memastikan bahwa penghulu bisa hadir di waktu yang kami ajukan. Alhamdulillah, penghulu menyanggupi waktu tersebut sehingga kami berdua bisa bernapas sedikit lega. Karena ada yang bilang bahwa sebaiknya pengajuan ke KUA dilakukan H-3 bulan.

Tanggal pernikahan ini cukup penting dipertimbangkan mengingat persiapan baik keluarga kedua belah pihak, penghulu dari KUA, dan ketersediaan vendor-vendor pernikahan. Tambahan, mungkin ada juga pertimbangan berupa adat istiadat berupa penanggalan (misalnya hitungan weton Jawa) dan alur proses pernikahan (misalnya midodareni). Hal tersebut bisa jadi sangat berpengaruh terhadap tanggal pernikahan nantinya.

Komponen Pernikahan

Tempat pernikahan. Atas permintaan orang tua Rani, akhirnya diputuskan untuk diselenggarakan di rumah saja. Kelebihannya acara bisa diselenggarakan berjam-jam (pukul 11 siang hingga 8 malam), bukan sekadar 3 jam layaknya acara di gedung. Satu-satunya kekhawatiran gue saat itu adalah hujan. Kalau saat itu hujan, gue khawatir ada air yang menetes karena bocor, atau tenda bisa roboh karena menampung air hujan, atau jalanan yang menggenang, yang berakibat tamu hadir dalam kondisi kurang nyaman. Alhamdulillah, hujan baru turun setelah acara pernikahan kami selesai. Vendornya merupakan teman dekat orang tua Rani, yang kebetulan memang vendor langganan warga sekitar kalau ada hajatan (tenda). Scope vendor tenda ini termasuk tenda, panggung, dekorasi, meja VIP, meja pondokan, meja penerima tamu, dan tentunya kursi untuk tamu.

Sound System. Kebetulan vendor tenda juga menawarkan fasilitas sound system. Gue gak begitu pilih-pilih, jadi ya sudahlah mau pakai vendor yang mana saja.

Baju mempelai dan rias. All in one. Vendor tenda juga menyediakan jasa sewa baju mempelai, rias pengantin dan keluarga. Kali ini gue juga ga begitu pilih-pilih. Jadi bebas mau vendor mana saja. Tambahan, kalau gak salah sih vendor ini juga menawarkan jasa dokumentasi, tapi kami memilih untuk menyewa jasa fotografer dan videografer secara terpisah.

Catering. Gue agak kurang paham bagian ini karena ditangani sepenuhnya oleh orang tua Rani, termasuk perincian biaya. Yang jelas request dari orang tua Rani waktu itu bahan utama berupa daging, disediakan oleh orang tua Rani. Demi menjaga harga yang katanya lebih murah dan kesegaran daging yang hendak dibeli.

Cincin. Terima kasih saya haturkan sebanyak-banyaknya ke Maya [part 1, part 2], sebagai referensi gue saat membeli cincin nikah ini. Gue ga pake mikir lagi, tanpa ba bi bu, tanpa survei lagi atau segala macem, gue langsung ke Toko Kenanga di Cikini Gold Center. Untungnya pembuatan hanya membutuhkan waktu sebulan. Harganya juga menurut gue cukup terjangkau dengan desain yang tidak terlalu berlebihan namun sudah apik. Variasi desain yang ditawarkan juga bermacam-macam jadi jangan khawatir tidak banyak pilihan.

Souvenir. Prinsip kami berdua dalam pemilihan souvenir itu berguna bagi tamu. Hat tip to Rani. Ini idenya dia untuk bikin pouch saja. Gue pikir juga hal ini akan berguna banget buat temen-temen untuk bawa barang-barang saat bepergian tapi males bawa tas kecil atau ingin terlihat elegan. Nah semoga tamu juga beranggapan demikian yah, jadi bisa berguna. Dengan berbekal sedikit searching di Tokopedia, akhirnya kami kepoin IG si vendor lalu kami berkunjung langsung ke markas vendor. Tentu saja sebagai survei untuk memastikan vendor bukan abal-abal, merasakan langsung bagaimana ukuran dan bahan, serta melakukan pembayaran uang muka. Waktu pembuatan sekitar 2 bulan.

Undangan. Biasanya nih kalau denger-denger cerita orang nih, banyaaaaaaaaak beut dah drama bikin undangan. Ada salah ketik lah, hiasan kurang pas lah, warnanya kurang sreg lah, bolak balik revisi lah, dst. Nah untungnya gue gak ngalamin. Jadi waktu itu kami ke tempat undangan, bikin draft nya di tempat, langsung diketik dan didesain, lengkap dengan peta, dicetakin contohnya (preview). Boom. Seminggu jadi.

Mahar. Emasnya sih gue hasil menabung di BukaEmas, gram per gram sejak lama sebelum kenal dengan Rani atau rencana menikah. Pas udah mau nikah, baru deh gue tarik emasnya. Jadi fisik emasnya dikirim (delivery) dengan biaya tambahan. Sepemahaman gue sih biaya tambahan ini semacam taksiran dari ANTAM (sertifikasi) bahwa emasnya sudah ditakar dengan tanggal berlaku. Jadi hingga tanggal berlaku, emas ini tidak perlu ditaksir lagi berapa karat dan beratnya. Hiasan maharnya dibuatin oleh temannya Rani. Biayanya sih ga mahal-mahal amat, untungnya.

Seserahan. Kalau tentang ini gue ga begitu ngeh, semuanya Rani yang beli pakai uang yang sudah dianggarkan. Serba serbi perempuan deh pokoknya, kosmetik, baju dalam, atasan dan bawahan, sepatu dan sandal, mukenah dan mushaf Al-Qur’an, sprei, dst. Untungnya Rani juga tidak memberatkan jadi biaya yang dikeluarkan juga tidak begitu membengkak.

Pentingnya Komunikasi

Setiap komponen pernikahan, perlu dikomunikasikan kepada kedua belah pihak, baik kedua mempelai sendiri, juga kedua pihak keluarga. Komunikasi ini perlu disampaikan sejelas-jelasnya, diusahakan tidak ada miskomunikasi sedikit pun. Khawatirnya ada miskomunikasi, “Lho bukannya begini?” atau “Lho harusnya kan begitu?” dari salah satu pihak. Kalau sudah kejadian, bukan hal tidak mungkin hal ini bisa berujung pada keretakan hubungan. Untungnya sih waktu itu tidak ada persyaratan yang memberatkan dari kedua belah pihak.

Misalnya nih lokasi pernikahan mau di mana, nilai mahar apa dan berapa, item seserahan apa aja, alur acaranya bagaimana, dst.

Tak kalah pentingnya komunikasi masalah dana, waktu itu sih sepakatnya gue berbagi biaya dengan orang tua Rani untuk handle tenda dan catering. Selain itu, gue dan Rani sendiri yang handle. Nah transportasi dan konsumsi keluarga ke-dan-dari Jakarta, ditanggung oleh orang tua gue.

Permasalahan amplop juga tuh, kotaknya dipisah lho, antara kotak amplop orang tua dan kotak amplop mempelai. Jadi pembagiannya sudah jelas dan tidak ada rasa gak enakan antara orang tua dan mempelai. Tips! Bawa tas kecil saat ke panggung, biasanya ada orang-orang yang lebih memilih untuk memberikan amplop ke mempelai langsung, bukan di kotak amplop dekat meja penerima tamu.


Pernikahan itu mudah dan sederhana, yang bikin rumit itu kita sendiri

Sukesih, 2019

Dengan kesadaran tersebut, kami sepakat untuk membuat pernikahan kami sesederhana mungkin. Perayaan tetap diselenggarakan dengan berbagi kebahagiaan bersama orang-orang terdekat berupa keluarga, tetangga, teman kerja. Namun tidak terlalu berlebihan yang bisa menghabiskan uang tabungan, yang seyogianya dimanfaatkan untuk kehidupan pasca pernikahan. Ada beberapa komponen yang kami tidak lakukan karena tidak esensial, misalnya pre-wedding. Lamaran juga kami lakukan hanya keluarga inti, orang tua pria bertemu orang tua perempuan. Take it simple!

Akhir kata, gue bersyukur acara pernikahan kami berjalan lancar sesuai rencana. Keluarga dan teman banyak yang hadir. Cuaca cerah dan tidak hujan. Semoga para tamu juga merasa demikian ya, senang dan puas saat hadir dalam acara perayaan pernikahan kami. Mohon maaf juga jika ada hal yang sekiranya kurang pas.

Mau tau cerita liburan bulan madu kami? Simak postingan cerita kami ke Bali April 2019 lalu.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: